Selasa, 21 Mei 2013

teori atom ilmuan islam


Teori Atom Ilmuwan Islam Asy’ariyah


oleh Dzi

Prototype Teori Atom dari Yunani
Ilmu pengetahuan nonmetafisis pernah dikembangkan secara intensif di Dunia Islam jauh sebelum Barat melakukannya. Seiring dengan pudarnya peradaban Islam, Barat secara perlahan tapi pasti mengambil alih kepemimpinan peradaban dari orang Islam, termasuk di dalamnya metodologi pengembangan ilmu pengetahuan. Kini, ketika peradaban Barat sangat dominan, Islam dengan pernik ilmu pengetahuannya yang sangat kaya menjadi tidak tampak sama sekali. Saat ini ilmu pengetahuan identik dengan Barat

Sebagai contoh, teori atom selalu dikembalikan pada konsep barat, baik modern maupun klasik (Yunani). Leucippus dan Democritus dicatat sebagai perenung awal yang member perhatian dan membuat rumusan bagi elemen kecil, bahkan terkecil dari segala sesuatu dua puluh lima abad silam. Kedua pemikir ini menyatakan bahwa setiap benda dapat dipecah sampai bentuk terakhir yang tidak dapat dipeca atau dibagi lagi yang di sebut atomos atau atom. Inilah yang menjadi inti pandangan atomisme yang menyebutkan bahwa realitas terdiri atas banyak unsure yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Permenides menyatakan bahwa atom-atom tersebut tidak dijadikan tidak dicipta) dan kekal sifatnya.



Democritus menyatakan lebih lanjut bahwa:
1.   Atom dibedakan melalui tiga cara: bentuknya (seperti huruh A dan N), urutannya (seperti AN dan NA), dan posisinya (seperti A dan Z)
2.    Atom tidak mempunyai kualitas dan jumlahnya tidak berhingga
3.    Atom-atom tidak dijadikan dan bersifat kekal
4.    Terdapat ruang kosong yang memungkinkan adanya gerak
5.    Realitas seluruhnya terdiri atas dua hal: yang penuh berisi atom-atom dan yang kosong


Add caption


Democritus membuat rumusan lebih jauh, yakni tentang hubungan antara jiwa dan atom. Menurutnya, jiwa jiwa juga terdiri atas atom-atom. Proses pengenalan/ pembelajaran manusia tidak lain sebagai interaksi antaratom. Setipa benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri atas atom-atom yang berbentuk seperti benda itu). Eidola ini masuk melalui panca indera dan disalurkan ke dalam jiwa yang juga terdiri atas atom-atom. Manusia dapat melihat karena atom-atom jiwa bersentuhan dengan atom-atom eidola. Kualitas seperti manis, pahit, panas, dingin dan sebagainya, semuanya bersifat kuantitatif belaka. Atom jiwa yang bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, bersentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit, dan bersentuhan dengan atom berkecepatan tinggi mengakibatkan rasa panas, dan seterusnya. Dengan pandangannya ini, Demicritus juga dapat dipandang sebagai tokoh materialism, pandangan yang menyatakan tidak ada apa pun kecuali materi.


Prototype Teori Atom Fisika Kuantum dari Islam
Masalah ini pernah mendpat perhatian serius di kalangan sarjana muslim sepuluh abad silam, diantaranya Abu Bakr Al-Baqillani, salah satu penganut aliran teologi mazhab Asy’ariyah. Dalam Islam, atomisme dikembangkan dan merupakan hasil dari pandangan mahzab tersebut yang diturunkan dari teks-teks suci Al Quran.

Tuhan diketahui memiliki banyak Nama, Atribut, dan Sifat. Setiap aliran teologi tumbuh dan berkambang atas dasar penerimaan pada satu sifat dominan. Teologi Asy’ariyah bertumpu pada penerimaan tindakan sewenang-wenang Tuhan. Menurut Al-Asy’ari, dorongan hebat dibalik tindakan Tuhan adalah “apa yang diinginkan-Nya” dan “karena kehendak-Nya”.

Penerapan prinsip “karena kehendak-Nya” pada aktivitas Tuhan di alam melahirkan gagasan occasionalism yang didefinisikan sebagai kepercayaan akan kemahakuasaan Tuhan dalam kesendirian-Nya. Tuhan terlibat langsung delam penyelenggaraan alam semesta, dan keterlibatan langsung pada peristiwa-peristiwa di alam semesta dipandang sebagai manifestasi lahiriah kesempatan-Nya (occasion). Implikasi occasionalism ini adalah segala sesuatu dan segala peristiwa di alam semesta secara substansial bersifat terputus-putus dan saling bebas. Tidak ada kaitan antara satu peristiwa dan peristiwa lain kecuali melalui kehendak Ilahi.Dalam perspektif kesewenang-wenangan Tuhan ini, bila peristiwa A terkait atau berhubungan dengan peristiwa B, hubungan ini tidak terjadi secara alamiah, tapi karena Tuhan menghendaki demikian. Dengan begitu, okasionalisme menyangkal kausalitas hubungan sebab akibat.

Dalam atomisme Asy-ariyah, alam didefinisikan sebagai segala sesuatu selain Tuhan dan terdiri dari dua unsur yang berbeda, atom dan aksiden. Seperti halnya atomisme Democritus, atom dipostulatkan sebagai al juz al lazii laa yatajazzaa, “bagian yang tidak dapat dibagi”.Partikel-partikel ini merupakan satuan paling fundamental yang dapat eksis dan darinya seluruh alam dibangun. (Aksiden adalah potensi dimana atom dapat mengisinya sehingga menbentuk suatu realita yang dapat dilihat. Misalnya warna putih adalah aksiden (potensi berbagai warna) dan agar dapat dilihat warna tersebut harus menempati sebuah wadah misalnya lensa merah, kuining, biru, dsb agar dapat terlihat-dzulim).
Ada tiga karakteristik atomisme dari Al Baqillani yang menyangga metafisika teologi Asy’ariyah.
1.  Atom-atom tidak mempunyai ukuran atau besar, dan homogeny. Artinya, atom merupakan dimensionless entities, yakni tanpa panjang, tinggi, dan lebar, tetapi terpadi membentuk benda yang mempunyai dimensi. Teori ini berbeda dengan Democritus dan Leucippus yang memilki besar.
2.  Jumlah atom adalah tertentu atau berhingga (finite). Segala sesuatu terhitung dan sesuatu yang terhitung adalah berhingga. Asy’ariyah menolak infiniteness dari semua mazhab atomis Yunani dengan basis argumentasi scriptural yang jelas yaitu: 

“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”(QS.72-Al Jinn : 28).
3.  Atom-atom dapat musnah atau lenyap secara fitrah; atom tidak dapat bertahan untuk dua saat.

Al-Baqillani mendefinikan aksiden (‘arad) sebagai sesuatu yang tidak bertahan lama dengan basis scriptural.

 “……….. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah(‘arad) sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS.8-Al Anfaal : 67)
Akhirat bertahan lama, sedangkan ‘arad sebentar, bersifat duniawi (tampak), dan pasti musnah seperti ditegaskan dalam Al Quran. 

 “yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.(QS.46-Al Ahqaaf : 25).
Pada setiap momen waktu, atom mewujud dan melewati esistensi. Durasi setiap atom (baqa’) adalah sekejap. Atom-atom tercipta, musnah, tercipta lagi, musnah lagi, dan seterusnya. Eksistensi yang sesaat ini dimungkinkan melalui keterlibatan Tuhan secara terus-menerus dalam mencipta, memusnahkan, mencipta, dan memusnahkannya sampai Tuhan ingin berhenti.

Alam semesta yang tampak ini dalam perspektif atomisme Asy’ariyah dijelaskan sebagai berikut. Alam tersusun dari atom-atom dan aksiden-aksiden serta mengalami penciptaan, penghancuran, dan pemusnahan yang terus menerus. Ketika Tuhan menciptakan atom suatu benda, dia juga menciptakan di dalamnya aksiden-aksiden yang membuat atom itu mewujud. Saat atom-atom itu lenyap, Tuhan menggantinya dengan atom-atom dan aksiden-aksiden yang jenisnya sama, selama Tuhan menginginkan benda yang sama tetap ada. Jika Tuhan tidak menginginkannya, Tuhan tidak akan mencipta lagi aksiden yang dimaksud.

Dalam perspektif ini, semua perubahan dalam skala makro, termasuk mukjizat, merupakan akibat proses atomic yang secara langsung dihasilkan oleh aktivitas Ilahi. Jika Tuhan menginginkan suatu mukjizat terjadi, misalnya transformasi dari tongkat menjadi ular dalam sekejap, Tuhan akan menghentikan penciptaan atom-atom dan aksiden-aksiden yang membentuk tongkat, dan secara serentak menggantikannya dengan atom-atom dan aksiden-aksiden yang membentuk ular.

Atomisme Asy’ariyah memberikan implikasi-implikasi sebagai berikut. Pertama, pada tingkat atomic, kita tidak dapat berbicara tentang perpindahan atom yang sama dari satu titik ke titik yang lain.Kita harus berbicara pemusnahan di titik semula, penciptaan kembali pada titik kedua, dan hilang diantara keduanya. Dengan demikian eksistensi ruang hampa atau ketiadaan dipertegas, tetapi kita mempunyai konsep jarak Newtonian. Kedua, alam semesta merupakan wilayah keterpisahan (discontinue) dengan entitas yang saling bebas atau tidak saling memengaruhi, artinya tidak ada kausalitas antara satu momen eksistensi dan momen selanjutnya. Menurut Asy’ariyah, keseragaman urutan peristiwa alamiah hanya penampakan dan tidak nyata, dalam artian tidak memiiki eksistensi objektif. “Sebab-akibat” itu tidak lebih dari sekedar konstruksi mental atau kebiasaan dalam pikiran manusia.

Hal perlu digarisbawahi dari atomisme Asy’ariyah adalah: pertama, gagasan ini dibangun murni atas dasar fondasi wahyu. Kedua, mempunyai kesamaan dengan teori atom modern. Konsekuensi penting dari kenyataan kedua ini adalah menguji kembali asumsi-asumsi yang mendasari pandangan epistemology dan metodologi ilmiah yang diterima saat ini. Atomisme Asy’ariyah menyiratkan adanya kemungkinan cara lain dalam memandang dan memahami alam, yang berbeda dengan metode yang digunakan dalam sains modern, tetapi berhasil merumuskan teori yang mempunyai kesamaan implikasi dengan fisika kuantum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar