Teori Atom Ilmuwan
Islam Asy’ariyah
oleh
Dzi
Prototype
Teori Atom dari Yunani
Ilmu
pengetahuan nonmetafisis pernah dikembangkan secara intensif di Dunia Islam
jauh sebelum Barat melakukannya. Seiring dengan pudarnya peradaban Islam, Barat
secara perlahan tapi pasti mengambil alih kepemimpinan peradaban dari orang
Islam, termasuk di dalamnya metodologi pengembangan ilmu pengetahuan. Kini,
ketika peradaban Barat sangat dominan, Islam dengan pernik ilmu pengetahuannya
yang sangat kaya menjadi tidak tampak sama sekali. Saat ini ilmu pengetahuan
identik dengan Barat
Sebagai
contoh, teori atom selalu dikembalikan pada konsep barat, baik modern maupun
klasik (Yunani). Leucippus dan Democritus dicatat sebagai perenung awal yang
member perhatian dan membuat rumusan bagi elemen kecil, bahkan terkecil dari
segala sesuatu dua puluh lima abad silam. Kedua pemikir ini menyatakan bahwa
setiap benda dapat dipecah sampai bentuk terakhir yang tidak dapat dipeca atau
dibagi lagi yang di sebut atomos atau atom. Inilah yang menjadi inti pandangan
atomisme yang menyebutkan bahwa realitas terdiri atas banyak unsure yang tidak
dapat dibagi-bagi lagi. Permenides menyatakan bahwa atom-atom tersebut tidak
dijadikan tidak dicipta) dan kekal sifatnya.
Democritus
menyatakan lebih lanjut bahwa:
1. Atom dibedakan melalui tiga cara: bentuknya
(seperti huruh A dan N), urutannya (seperti AN dan NA), dan posisinya (seperti
A dan Z)
2. Atom tidak mempunyai kualitas dan jumlahnya
tidak berhingga
3. Atom-atom tidak dijadikan dan bersifat kekal
4. Terdapat ruang kosong yang memungkinkan
adanya gerak
5. Realitas seluruhnya terdiri atas dua hal:
yang penuh berisi atom-atom dan yang kosong
Democritus
membuat rumusan lebih jauh, yakni tentang hubungan antara jiwa dan atom.
Menurutnya, jiwa jiwa juga terdiri atas atom-atom. Proses pengenalan/
pembelajaran manusia tidak lain sebagai interaksi antaratom. Setipa benda
mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri atas atom-atom yang
berbentuk seperti benda itu). Eidola ini masuk melalui panca indera dan
disalurkan ke dalam jiwa yang juga terdiri atas atom-atom. Manusia dapat
melihat karena atom-atom jiwa bersentuhan dengan atom-atom eidola. Kualitas
seperti manis, pahit, panas, dingin dan sebagainya, semuanya bersifat
kuantitatif belaka. Atom jiwa yang bersentuhan dengan atom licin menyebabkan
rasa manis, bersentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit, dan
bersentuhan dengan atom berkecepatan tinggi mengakibatkan rasa panas, dan
seterusnya. Dengan pandangannya ini, Demicritus juga dapat dipandang sebagai
tokoh materialism, pandangan yang menyatakan tidak ada apa pun kecuali materi.
Prototype
Teori Atom Fisika Kuantum dari Islam
Tuhan
diketahui memiliki banyak Nama, Atribut, dan Sifat. Setiap aliran teologi
tumbuh dan berkambang atas dasar penerimaan pada satu sifat dominan. Teologi
Asy’ariyah bertumpu pada penerimaan tindakan sewenang-wenang Tuhan. Menurut
Al-Asy’ari, dorongan hebat dibalik tindakan Tuhan adalah “apa yang
diinginkan-Nya” dan “karena kehendak-Nya”.
Penerapan
prinsip “karena kehendak-Nya” pada aktivitas Tuhan di alam melahirkan
gagasan occasionalism yang didefinisikan sebagai kepercayaan
akan kemahakuasaan Tuhan dalam kesendirian-Nya. Tuhan terlibat langsung delam
penyelenggaraan alam semesta, dan keterlibatan langsung pada
peristiwa-peristiwa di alam semesta dipandang sebagai manifestasi lahiriah
kesempatan-Nya (occasion). Implikasi occasionalism ini adalah segala sesuatu
dan segala peristiwa di alam semesta secara substansial bersifat terputus-putus
dan saling bebas. Tidak ada kaitan antara satu peristiwa dan peristiwa lain
kecuali melalui kehendak Ilahi.Dalam perspektif kesewenang-wenangan Tuhan ini,
bila peristiwa A terkait atau berhubungan dengan peristiwa B, hubungan ini
tidak terjadi secara alamiah, tapi karena Tuhan menghendaki demikian. Dengan
begitu, okasionalisme menyangkal kausalitas hubungan sebab akibat.
Dalam
atomisme Asy-ariyah, alam didefinisikan sebagai segala sesuatu selain Tuhan dan
terdiri dari dua unsur yang berbeda, atom dan aksiden. Seperti halnya atomisme
Democritus, atom dipostulatkan sebagai al juz al lazii laa yatajazzaa, “bagian
yang tidak dapat dibagi”.Partikel-partikel ini merupakan satuan paling
fundamental yang dapat eksis dan darinya seluruh alam dibangun. (Aksiden adalah
potensi dimana atom dapat mengisinya sehingga menbentuk suatu realita yang
dapat dilihat. Misalnya warna putih adalah aksiden (potensi berbagai warna) dan
agar dapat dilihat warna tersebut harus menempati sebuah wadah misalnya lensa
merah, kuining, biru, dsb agar dapat terlihat-dzulim).
Ada
tiga karakteristik atomisme dari Al Baqillani yang menyangga metafisika teologi
Asy’ariyah.
1. Atom-atom tidak mempunyai ukuran atau besar,
dan homogeny. Artinya, atom merupakan dimensionless entities, yakni
tanpa panjang, tinggi, dan lebar, tetapi terpadi membentuk benda yang mempunyai
dimensi. Teori ini berbeda dengan Democritus dan Leucippus yang memilki besar.
2. Jumlah atom adalah tertentu atau berhingga (finite).
Segala sesuatu terhitung dan sesuatu yang terhitung adalah berhingga.
Asy’ariyah menolak infiniteness dari semua mazhab atomis Yunani dengan basis
argumentasi scriptural yang jelas yaitu:
“Supaya Dia mengetahui,
bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya,
sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia
menghitung segala sesuatu satu persatu”. (QS.72-Al Jinn : 28).
3. Atom-atom dapat musnah atau lenyap secara
fitrah; atom tidak dapat bertahan untuk dua saat.
Al-Baqillani
mendefinikan aksiden (‘arad) sebagai sesuatu yang tidak bertahan lama
dengan basis scriptural.
“……….. Kamu
menghendaki harta benda duniawiyah(‘arad) sedangkan Allah menghendaki
(pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.8-Al Anfaal :
67)
Akhirat
bertahan lama, sedangkan ‘arad sebentar, bersifat duniawi (tampak), dan pasti
musnah seperti ditegaskan dalam Al Quran.
“yang menghancurkan
segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang
kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami
memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.(QS.46-Al Ahqaaf : 25).
Pada
setiap momen waktu, atom mewujud dan melewati esistensi. Durasi setiap atom
(baqa’) adalah sekejap. Atom-atom tercipta, musnah, tercipta lagi, musnah lagi,
dan seterusnya. Eksistensi yang sesaat ini dimungkinkan melalui keterlibatan
Tuhan secara terus-menerus dalam mencipta, memusnahkan, mencipta, dan
memusnahkannya sampai Tuhan ingin berhenti.
Alam
semesta yang tampak ini dalam perspektif atomisme Asy’ariyah dijelaskan sebagai
berikut. Alam tersusun dari atom-atom dan aksiden-aksiden serta mengalami
penciptaan, penghancuran, dan pemusnahan yang terus menerus. Ketika Tuhan
menciptakan atom suatu benda, dia juga menciptakan di dalamnya aksiden-aksiden
yang membuat atom itu mewujud. Saat atom-atom itu lenyap, Tuhan menggantinya
dengan atom-atom dan aksiden-aksiden yang jenisnya sama, selama Tuhan
menginginkan benda yang sama tetap ada. Jika Tuhan tidak menginginkannya, Tuhan
tidak akan mencipta lagi aksiden yang dimaksud.
Dalam
perspektif ini, semua perubahan dalam skala makro, termasuk mukjizat, merupakan
akibat proses atomic yang secara langsung dihasilkan oleh aktivitas Ilahi. Jika
Tuhan menginginkan suatu mukjizat terjadi, misalnya transformasi dari tongkat
menjadi ular dalam sekejap, Tuhan akan menghentikan penciptaan atom-atom dan
aksiden-aksiden yang membentuk tongkat, dan secara serentak menggantikannya
dengan atom-atom dan aksiden-aksiden yang membentuk ular.
Atomisme
Asy’ariyah memberikan implikasi-implikasi sebagai berikut. Pertama, pada
tingkat atomic, kita tidak dapat berbicara tentang perpindahan atom yang sama
dari satu titik ke titik yang lain.Kita harus berbicara pemusnahan di titik
semula, penciptaan kembali pada titik kedua, dan hilang diantara keduanya.
Dengan demikian eksistensi ruang hampa atau ketiadaan dipertegas, tetapi kita
mempunyai konsep jarak Newtonian. Kedua, alam semesta
merupakan wilayah keterpisahan (discontinue) dengan entitas yang saling
bebas atau tidak saling memengaruhi, artinya tidak ada kausalitas antara satu
momen eksistensi dan momen selanjutnya. Menurut Asy’ariyah, keseragaman urutan
peristiwa alamiah hanya penampakan dan tidak nyata, dalam artian tidak memiiki
eksistensi objektif. “Sebab-akibat” itu tidak lebih dari sekedar konstruksi
mental atau kebiasaan dalam pikiran manusia.
Hal
perlu digarisbawahi dari atomisme Asy’ariyah adalah: pertama, gagasan
ini dibangun murni atas dasar fondasi wahyu. Kedua, mempunyai
kesamaan dengan teori atom modern. Konsekuensi penting dari kenyataan kedua ini
adalah menguji kembali asumsi-asumsi yang mendasari pandangan epistemology dan
metodologi ilmiah yang diterima saat ini. Atomisme Asy’ariyah menyiratkan
adanya kemungkinan cara lain dalam memandang dan memahami alam, yang berbeda
dengan metode yang digunakan dalam sains modern, tetapi berhasil merumuskan
teori yang mempunyai kesamaan implikasi dengan fisika kuantum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar